Just Another Usual Blog

Kasultanan Cirebon adalah kerajaan Islam pertama di Jawa Barat. Kerajaan ini didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Pada awal abad ke-16, Cirebon masih berupa daerah kecil di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Raja Pajajaran hanya menempatkan seorang juru labuhan disana yang bernama Pangeran Walangsungsang. Ia masih ada hubungan darah dengan Raja Pajajaran. Ketika ia berhasil memajukan Cirebon, ia telah memeluk agama Islam. Akan tetapi orang yang berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kerajaan adalah Syarif Hidayat yang terkenal dengan gelar Sunan Gunung Jati. Ia adalah keponakan Pangeran Walangsungsang. Sebagai keponakan, tentunya ia juga memiliki hubungan darah dengan Raja Pajajaran yaitu Prabu Siliwangi.
Prabu Siliwangi adalah raja Sunda yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran. Ia menikah dengan Nya Subang Larang pada tahun 1422. dari perkawinannya itulah lahirlah tiga anak yaitu Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang dan Raja Sengara. Syarif Hidayat adalah putra Nyai Lara Santang yang menikah dengan Maulana Sultan Mahmud dari Bani Hasyim ketika naik haji.
Karena Syarif Hidayat termasuk salah seorang wali sanga, ia mendapatkan penghormatan dari raja-raja lain di Jawa, seperti Demak dan Pajang. Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam yang bebas dari kekuasaan Pajajaran, Sunan Gunung Jati hendak meruntuhkan kerajaan Pajajaran yang belum mau menganut agama Islam. Dari Cirebon inilah Sunan Gunung Jati mengembangkan Islam ke daerah-daerah lain di Jawa Barat, seperti Majalengka, Kuningan, Galuh, Sunda Kelapa dan Banten.
Dasar bagi pengembangan Islam dan perdagangan kaum muslimin di Banten diletakkan oleh Sunan Gunung Jati pada tahun 1524 M. Ketika hendak kembali ke Cirebon, Banten diserahkan kepada anaknya yang bernama Sultan Hasanudin. Dikemudian hari Sultan Hasanudin lah yang menurunkan raja-raja Banten. Akhirnya di tangan raja Banten kerajaan Pajajaran dapat dikuasai. Atas prakarsa Sunan Gunung Jati, raja Banten juga menyerang Sunda Kelapa dengan bantuan tentara Demak. Penyerangan ini dipimpin oleh Faletehan atau Fatahillah.
Keutuhan Cirebon sebagai sebuah kerajaan hanya sampai kepada Panembahan Girilaya sekitar tahun 1655. Sepeninggalnya, sesuai kehendaknya sendiri, Cirebon diperintah oleh dua puteranya, yaitu Martawijaya atau Panembahan Sepuh dan Kartawijaya atau Panembahan Anom. Panembahan sepuh memimpin Kasultanan Kasepuhan dengan gelar Syamsudin, sedangkan Panembahan Anom memimpin Kasultanan Kanoman dengan gelar Badrudin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: